Sroedji Sang Patriot dari Jember


Dada Sroedji berdentam-dentam. Jiwanya berteriak,”Penjajah memang harus enyah dari bumi pertiwi!”

Siapakah Sroedji? Mengapa dia begitu membenci penjajah? Siapakah penjajah yang dia maksud? Apa hubungan dia dengan para penjajah itu?

Mungkin tidak banyak dari rakyat negeri ini yang tahu siapa itu Sroedji. Saya sendiri pun baru mengenal sosok itu beberapa saat setelah menerima sebuah novel dari seorang Irma Devita. Teman ng-blog di Warung Blogger sekaligus penulis novel tersebut.

SANG PATRIOT adalah judul novel yang saya terima hari itu dengan suka cita. DItambah lagi ada tanda tangan serta kalimat spesial buat saya dari sang penulis :) Novel setebal 266 halaman ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Kisah tentang perjuangan seorang Sroedji, anak yang cerdas, berkepribadian kuat, yang nantinya tumbuh menjadi seorang pemimpin yang disegani.

Banyak fakta-fakta sejarah yang coba dimasukkan dalam novel ini. Maklum sang penulis telah melakukan riset yang panjang sebelum menuliskannya. Data tersebut penting karena ini adalah sebuah novel based on true story. Jadi diusahakan semirip mungkin dengan aslinya.

Ketika membaca novel ini, kita akan terikat sentimen emosional yang mendalam. Pada beberapa kisah tentang keluarga Sroedji kita akan dibawa seolah-olah masuk kedalamnya. Betapa tidak, sang penulis sendiri memasukkan perasaannya secara mendalam juga dalam tulisan ini. Dia paham bagaimana keluarga tersebut, karena dia termasuk di dalamnya. YA! Irma Devita adalah cucu dari Sroedji, Sang Patriot dalam novelnya.

Sejak pertama saya membaca lembar prolog, ada semacam haru dan rasa tersengat mengalir di pembuluh darah. Belum juga kisah ini dimulai, namun sudah disajikan sebuah kontradiksi batin yang kuat.  Drama tentang terbunuhnya Sroedji yang saat itu telah berpangkat Letnan Kolonel. Drama tentang propaganda Belanda yang teramat kejam.

Kisah selanjutnya adalah tentang runtutan perjalanan hidup Mochammad Sroedji. Tentang asal-usulnya, keinginan kuatnya untuk sekolah lebih tinggi dari siapapun, kehidupan kasih remajanya, hingga epos kepemimpinannya.

Tentang perseteruan batin masa depan Sroedji kecil dengan ayahnya. Perang batin antara keluarga dan pendidikan Rukmini istrinya. Pergolakan antara perjuangan demi kemerdekaan dan ketakutan akan nasib keluarga dalam persembunyian. Hingga begitu busuknya akibat sebuah pengkhianatan.

Secara garis besar novel ini berkisah tentang sosok Sroedji yang bertarung dengan penjajahan.  Ketika dia kecil, dimana dia tidak ingin dianggap lebih rendah dan bodoh dibandingkan anak-anak penjajah. Berbekal tekad yang kuat Sroedji berjuang menapaki jenjang demi jenjang pendidikan. Sekolah demi menjadi tentara.

“Ya! Aku akan sekolah! Akan kugapai impianku jadi tentara,” seru Sroedji dalam hati.

Menjadi tentara adalah kobaran panggilan di hatinya. Bahkan ketika sudah menjadi seorang mantri malaria di Rumah Sakit Kreongan. Saat selebaran rekrutmen PETA dibacanya, impian itu kembali berkobar. Dan jadilah dia!

Ketika sudah menjadi seorang tentara, perjuangan Sroedji melawan penjajahan kian nyata. Medan demi medan pertempuran dia tempuh. Rintangan demi rintangan silih berganti. Namun hingga detik-detik terakhirnya hatinya tetap teguh. Demi negara merdeka untuk anak cucunya kelak.

Novel ini juga menampilkan sosok Mochammad Sroedji sebagai seorang Komandan yang begitu dicintai bawahannya. Seorang komandan yang berkharisma. Ketika suasana ricuh, kata-katanya menentramkan.

Suara Sroedji seakan mampu menyihir orang-orang untuk diam. Kekacauan sontak terhenti. Semua perhatian terpusat ke  sumber suara, sang komandan brigade, yang mereka hormati

Ketika moral pasukannya menurun, kata-katanya yang berapi-api disertai sorot mata menyala mampu membangkitkan kembali kobaran semangat mereka.

Bagi yang menggemari kisah romantis, kisah Sroedji dan Rukmini, istrinya, boleh dibilang lebih dahsyat dari Twilight, Romeo-Juliet, atau Cinta di Kampus biru. Kisah cinta yang begitu tulus dan apa adanya dalam sebuah hingar-bingar pertempuran.

Kisah seorang Sroedji yang mampu memikat Rukmini dalam sebuah pertemuan singkat di sebuah pasar. Rayuan dan lagu-lagu mesra kala berdua. Pengorbanan Rukmini akan impiannya menjadi seorang Meester in de Reechten  demi mendukung perjuangan suaminya. Kisah cinta yang  tidak tergantikan sampai akhir hayat masing-masing.

Bagi saya yang memang sangat menyukai kisah-kisah yang berhubungan dengan sejarah, novel ini sangat menarik. Apalagi di Indonesia, novel seperti ini jarang ditulis. Ditambah lagi, sosok yang diceritakan belum dikenal khalayak luas. Hal-hal tersebut memunculkan teka-teki tersendiri bagi saya.

Namun saya harus mengakui, bahwa saya perlu waktu yang lama untuk menyelesaikan membaca buku ini.  Ada beberapa saat dimana saya harus break agar mampu menelaah kisah ini secara utuh.  Ya, membaca kisah yang begitu lekat dengan sejarah tidak bisa dibaca sepintas lalu seperti saat membaca beberapa teenlit. 

Beberapa fragmen yang dimasukkan Irma Devita cukup menghidupkan kisah ini. Memberi rasa dan warna. Namun ada sedikit blunder yang dilakukan penulis. Side story yang dicuplikkan terlalu banyak.  Halaman yang hanya 266 lembar dimana porsi yang ideal untuk pembaca pemula menjadi sedikit sumpek dengan berjubel kisah yang ada.

Selain itu gaya bahasa yang dituliskan saat menggambarkan detail perang agak sedikit kaku. Mungkin karena terbiasa menulis buku yang berkenaan dengan hukum, jadi sedikit terbawa.  Hal tersebut diakui sendiri oleh penulis dalam prakata novel ini.

Secara keseluruhan, novel ini cukup berhasil dalam menampilkan sosok Letkol Mochammad Sroedji sebagai sosok panutan dan suri teladan bagi generasi muda. Para pembaca pasti terhenyak membayangkan kisah demi kisah yang ada. Hatinya pasti bergetar, semangatnya turut berkobar. Dan mungkin merasa malu, jika selama ini bermalas-malasan menikmati masa damai yang dulu diperjuangkan dengan tiap tetes keringat serta darah pendahulunya.

“Di timur matahari…. Mulai bercahaya…
Bangun dan berdiri, kawan semua…
Marilah mengatur barisan kita
Seluruh Pemuda Indonesia…”

Sedikit usul ya mbak Irma😀 Publikasi ke sekolah-sekolah terutama di daerah asal Sroedji saya kira perlu. Videonya ada kan? Bisa juga tuh suatu saat diputar di tv lokal Jember.  Agar orang-orang tertarik untuk mengenal sosok Sroedji. Otomatis, beli novel ini😀

Bisa juga dibuat sebuah sequel tentang fragmen Pertempuran yang ada, difokuskan pada beberapa titik atau rentang waktu tertentu. Beberapa fragmen sebenarnya cukup mampu mengulik keingintahuan pembaca. Namun karena hanya kisah sampingan jadi sekelumit saja yang tertuang.  Saya masih bertanya-tanya nasib Rustamaji, yang disuruh kabur untuk menjaga keluarga Sroedji.

Selamat membaca dan terbang ke medan pertempuran bersama Sroedji Sang Patriot dari Jember.

Artikel ini disertakan dalam lomba review novel Sang Patriot

10 thoughts on “Sroedji Sang Patriot dari Jember”

  1. Betul mas,.. masih banyak sekali pahlawan2 jagoan yang belum dikenal karena belum ada yang mengangkat kisahnya ke masyarakat. Terutama mereka mereka yang gugur syahid sebelum Indonesia betul2 berdaulat. Ada banyak hal yang menyebabkan itu terjadi, termasuk kurangnya data yang tersaji di arsip2 dan museum2 kita.
    Kalau tidak di ingatkan oleh editor, sebenarnya saya masih ingin menyelipkan kisah Kapten Suwandak (salah satu pasukan Sroedji yang betul2 jagoan), letnan Prajoto, pak Burah dll yang juga mencengangkan. Mudah2an akan banyak penulis2 lain yang termotivasi untuk mengangkat kisah2 yang terserak di bumi nusantara. Aamiin.. wah komennya jadi panjang. Anyway,.. terima kasih ya partisipasinya dan juga hadiah coretan senjanya🙂 Sukses selalu

    1. saya beberapa hari yang lalu sempet ke Jember…. nyari2 patungnya Sroedji ga beruntung nemu… soalnya cuma sebentar.

      Pengennya blusukan lagi kek dulu ke museum2 yang tersembunyi… monumen2 yang tak terawat…. nabung alat dokumentasi dulu,,…
      tapi sekarang masih ada tangan dan tinta ^_^

  2. Aku sendiri sebelumnya juga gak tahu siapa itu Moch. Sroedji, barulah setelah membaca novel ini dan melihat foto2nya… aku bener2 jadi yakin bahwa beliau adalah pahlawan kemerdekaan. Sayang, tidak disebutkan namanya di buku2 pelajaran sejarah ya..?

    1. Masih banyak Pahlawan2 lain yang perannya begitu besar terkubur dalam kenangan saja…

      sayang ya .. katanya bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya

  3. Kisah tentang Pahlawan Soerdji ini membuka mata kt betapa mahal harga sebuah kemerdekaan…para muda sptnya harus membacanya…agar paham arti sebuah perjuangan dan hrs bgm mengisinya….Sukses dg lombanya mas..!

Share your story with us

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s