Jalan Panjang Pendidikan itu Kian Terjal


September 2010 saya pernah menulis sebuah artikel berjudul “Meniti Jalan Panjang Pendidikan”.  Artikel tersebut saya tulis ketika saya dilanda kegelisahan akan nasib pendidikan bangsa ini. Tentang nasib generasi-generasi mendatang yang akan dilahirkan oleh sistem pendidikan negeri ini.

Harapan akan perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan yang sempat terbesit dalam angan saya, kini kian pudar.  Bukan! Sekali-kali bukan karena saya pesimis terhadap pendidikan kita. Tapi saya sedikit realistis.

Kasus-kasus tahun 2010 yang lalu, berlipat ganda dalam kurun 3,5 tahun terakhir. Korupsi dana pendidikan, korupsi BOS, nepotisme siswa didik, joki ujian, pelecehan seksual terhadap murid, dan yang terakhir oknum guru menjualan bocoran kunci jawaban UNAS.

Guru yang dahulunya sosok untuk digugu dan ditiru, kini ternoda oleh oknum-oknum “blangsak” yang kian menyeruak. Bahkan jika kurikulum terbaru 2013 tidak dibenahi, serta para pengampunya ditraining dengan sangat matang, maka Indonesia Berdikari dalam bidang pendidikan hanyalah wacana.

Jejak-jejak pendidikan yang menyelaraskan antara kecerdasan dan akhlak yang baik kini semakin tergusur. Tersapu oleh angin kencang yang bernama globalisasi. Ini dikarenakan pijakan kita yang kurang kuat menorehkannya dalam sanubari.  Atau mereka yang bersembunyi dalam topeng bernama “akademik”.

Jalan panjang pendidikan yang selama ini kita tempuh,  tiap saat saya rasakan kian terjal. Bahkan dengan kecanggihan teknologi yang ada hanya semakin mengekspos sudut-sudut kemirisannya.  Menampakkan bahwa bagi negeri ini, pendidikan tidak lagi berarti. Bahwa perjuangan Ki Hajar Dewantara, Rohana Kudus, Kartini sudah kehilangan nyali.

Akan dibawa kemanakah masa depan negeri ini? Ketika dunia pendidikannya hanya meninggalkan ironi.

11 thoughts on “Jalan Panjang Pendidikan itu Kian Terjal”

    1. guru yang baik menghasilkan murid yang baik yang akan menjadi manusia yang baik yang akan memimpin negara menjadi baik

      sepakat mbak titis

  1. ndak cuma semakin terjal tp semaki suram….
    sepertinya mereka yg mengemban amanah mencerdaskan kurang dapat mendidik…

  2. Kalau dari kacamata saya, bangsa kita ini kalau sudah tersentuh teknologi dan globalisasi anggapannya adalah “praktis” dan “makmur”. Oleh karena itu, ketika pendidikan juga “disusupi” oleh teknologi dan globalisasi, anggapan mereka yang berkecimpung di dalamnya adalah juga demikian.

    Padahal, menurut saya, pendidikan untuk bangsa kita tidak boleh meninggalkan kearifan lokal yang mana kadang “tidak nyambung” dengan teknologi dan globalisasi. Oleh sebab itu, banyak terjadi kasus-kasus dalam dunia pendidikan seperti yang mas Vierda sebutkan di atas.

  3. I share your feeling…sedih rasanya melihat dunia pendidikan kita dan segala kasus yang banyak terjadi sekarang… Moga2 segera ada perbaikan seriuuuus…

Share your story with us

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s