[Giveaway] Didongengkan Mendongengkan


cover kump dongeng anak

Bagi seorang anak yang terlahir dari sebuah keluarga di pinggiran kota, gelimangan buku dan listrik adalah kemewahan pada waktu itu. Hiburan yang kami dapatkan adalah permainan-permainan masa kecil dengan bahan seadanya. Tempat berkumpul paling nikmat adalah di surau. Mengaji setiap sore.

Selain mengaji, kami diajarkan bagaimana bersikap dan beradab yang baik. Apalagi sebagai orang Jawa yang terkenal halus perilakunya. Dari cara berbicara yang sopan sampai bagaimana berlaku terhadap orang yang lebih tua. Seperti itu setiap sore. Namun jarang kami bosan dan mengeluh untuk tidak berangkat.

Ya! Bagaimana bosan, jika setiap kami belajar selalu diselingi atau diakhiri dengan dongeng kisah-kisah masa lampau. Entah darimana kakak-kakak serta uwak yang mengajari kami mendapatkan dongeng yang tiada habisnya. Kadang mereka bercerita tentang kisah-kisah kepahlawanan para sahabat Nabi saw. Tak jarang pula legenda-legenda yang tersebar di nusantara. Atau kisah-kisah seputar pulau Jawa.

Tapi seingat saya, kami tidak dikisahkan tentang si Kancil, Timun emas dan beberapa kisah populer lainnya. Kami tidak terpikirkan waktu itu. Hingga saat dewasa ini saya baru tahu setelah menelaah sendiri ksah-kisah tersebut.

Kebiasaan saya mendengarkan dan membaca dongeng pun bukan hanya di surau saja. Di rumah tertumpuk beberapa buku dongeng nusantara. Hasil meminjam dari perpustakaan sekolah. Kadang saya dan kakak sering berebut ketika ingin membaca buku yang sama.

Radio kesayangan kakek juga sering memperdengarkan kisah-kisah Mahabharata serta Ramayana. Hampir setiap siang dan malam.  Pada hari tertentu, ada sandiwara radio yang mengisahkan kisah-kisah populer semacam Mak Lampir, Angling Dharma, Saur Sepuh, Nagasasra Sabuk Inten dll.

Kini setelah beranjak dewasa, peran saya yang dulu sebagai pendengar setia berubah menjadi pengisah. Ketika mengajar adik-adik di surau, atau sedang berkumpul dengan murid di sekolah kadang dongeng-dongeng yang pernah saya dengar dan baca saya bagikan kepada mereka. Saat itulah saya paham bahwa ada dongeng yang baik untuk anak-anak dan ada juga yang buruk.

Pun ketika saya harus mendampingi beberapa client berpetualang. Saya selalu dengan antusias mencari kisah seputar legenda dan mitos daerah yang akan kami kunjungi. Mereka suka dengan kisah-kisah itu. Apalagi jika tamunya dari luar negeri. Meski sudah saya berikan copy-an cerita tersebut, mereka masih asyik mendengarkan dongeng saya.

Pernah juga saya dipertemukan dengan pendongeng-pendongeng handal yang hanya mengisahkan cerita luhur bagi anak-anak. Seperti Kak Bimo, Kak Wuntat dan kawan-kawannya. Bahkan ada suatu saat saya diminta membantu memperbanyak CD dongeng beliau. Atau tentor debat saya saat SMA yang berbagi kisah seputar study dia tentang Children Literature di Oxford.

Dongengkanlah kisah yang baik untuk anak-anak kalian. Karena setiap mili dari dongeng itu sesungguhnya memiliki kekuatan untuk merubah kepribadian mereka. Bahkan sampai sekarang saya masih berimajinasi tentang kekuatan, kecerdasan dan hal-hal yang ada di dalam dongeng-dongeng yang saya dengar.

6 thoughts on “[Giveaway] Didongengkan Mendongengkan”

  1. mas, selamat mas menang GAnya mendapatkan satu paket buku yg terdiri dari satu kumpulan dongeng anak karangan saya dan buku cerita anak dari penerbit mizan. Tolong krim nama, alamat lengkap serta no hp ke inbox FB Hastira Soekardi atau email hastira@gmail.com. Sekali lagi selamat ya mas, ceritanya asik

  2. sayangnya dongeng yang betebaran sejak zaman saya kecil atau bahan sebelum saya lahir ya seputar kepandaian dan kecerdikan Si Kancil mencuri ketimun dan akhirnya bebas dari kurungan…

    Jadi maklum saja kalau besarnya, anak-anak yang didongengin Si Kanci jadi koruptor…

    1. Sebenarnya dongeng si Kancil bisa kita “edit” dengan menitikberatkan konsekuensi akibat tindakan tidak terpujinya. sayangnya, hal tersebut tidak digali oleh orang tua yang mendongengkan kisah tersebut.

      kalau timun emas, susah buat ngedit… karena sejak awal sampai akhir kisah tentang lari dari tanggung jawab…

Share your story with us

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s