Ketandan, Imlek, dan Sketsa


Sketsa di KetandanPerayaan Imlek selalu dirayakan dengan meriah oleh warga Tionghoa. Dimanapun mereka berada, dalam kondisi apapun sebisa mungkin tetap merayakan. Begitu pula dengan warga Tionghoa di Kampung Ketandan, Yogyakarta.

Ada yang istimewa dalam merayakan pergantian tahun baru tersebut kali ini. Penyelenggara menggandeng rekan-rekan Indonesia’s Sketcher Jogja berperan serta. Kami diminta untuk mengabadikan suasana perayaan tahun ini dalam bentuk sketsa.  Rentang waktu yang diberikan adalah selama perayaan, sekitar 10-14 Februari 2014. Jadi fleksible mau kapan aja datang dan berkarya. Bagi karya yang dikumpulkan nanti ada kesempatan buat dipamerkan di Hotel Duta Wisata.

Ngumpul pertama lumayan ramai mesti agak pesimis karena sempat hujan sebelumnya. Dan YES!! Cuaca mulai bersahabat ketika langkah kaki memasuki deretan tenda penutup jalan. Sebelum melangkah jauh saya sempat mengajak There teman saya ikut serta.

Di perempatan ujung gang ternyata sudah ada Mas Indra, dan Ayuk yang sudah memulai terlebih dahulu. Kemudian satu persatu rekan yang lain berdatangan. Sambil clingak-clinguk cari spot untuk nyekets, ngliatin rekan-rekan yang dengan lincah jari jemarinya menyapukan kuas dan menggoreskan pena.

Ketika menyusuri jalan menuju Beringharjo dari Ketandan, sampailah pada deretan kios pedagang emas. Ada juga yang hanya menggunakan meja kursi di pinggiran trotoar. Sepertinya menarik. Akhirnya saya mencari tempat duduk yang nyaman serta aman di trotoar sebelah timur.

Goresan demi goresan saya torehkan menggunakan Gelpen. Mengamati bangunan-bangunan yang bercampur lama dan baru. Sembari menerima tatapan curiga dan heran dari orang-orang yang berlalu lalang. Tak terasa 30 menit sudah. Berbarengan dengan rintik yang kembali turun, sketsa hari itu selesai. Kami berkumpul lagi di perempatan, sambil menunggu rekan-rekan yang belum kelar.

Deretan Pedagang Emas Ketandan

Setelah selesai semua, kami nongkrong sambil mengisi perut di angkringan dekat Malioboro. Berbagi obrolan dan cerita. Saya cukup teh panas saja dengan beberapa gorengan hangat. Cocok dengan hawa dingin siang itu.

Perut terisi, langit mulai terang, kami memutuskan ke depan gapura utama. Memang gapura besar tersebut merupakan salah satu ciri khas Kampung Ketandan. Dihiasi lampion-lampion merah memeriahkan perayaan imlek.

Di sana kami berjumpa dengan Upik and the gang (hahhaha). Yap! Akhirnya ndeprok bareng di pembatas jalan Malioboro. Lain halnya denga waktu saya nyekets di deretan toko emas, di sini orang-orang malah mengerumuni kami. Ada turis, ada tukang becak, ada orang habis belanja, lengkap. Saya di sini tak lama. Karena sorenya ada kegiatan jadi saya pulang duluan.

Beberapa hari setelah itu saya datang lagi. Kali ini saya menuju gapura merah yang dibuat untuk event ini di ujung belakang kampung. Dan hujan lebat tanpa ampun menggagalkan rencana hari itu.  Akibat dampak hujan abu erupsi Gunung Kelud saya tidak sempat mengumpulkan sketsa untuk ikut dalam pameran😦. Saya mau tidak mau harus ikut dalam penanganan tanggap darurat hujan abu vulkanik. Iri juga liat foto-foto Ayuk dan mas Erick di area pameran😀

6 thoughts on “Ketandan, Imlek, dan Sketsa”

Share your story with us

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s