Kisah Pemuda dalam Trans Jogja


Masih lanjutan dari kisah Coretan Pena di Vredeburg

trans jogjaSiang itu cuaca sangat terik. Hanya melangkahkan kaki beberapa ratus meter saja peluh sudah membasahi tubuhku. Aku menyusuri setapak demi setapak jalan dari Alun-alun utara menuju Taman Pintar. Di sana terletak Halte Trans Jogja yang mengarah ke Terminal Giwangan.

Sampai di sana, berbekal recehan sejumlah 3000 rupiah kubayar satu tiket perjalanan. Lega sudah bisa pulang. Begitu masuk ke halte, lumayan penuh antrian penumpangnya. Tetapi tidak semua menanti bus yang sama dengan ku. Ada satu lagi jurusan, menuju bandara.

Selama menanti aku sembari memperhatikan para penumpang juga seputar obrolan mereka. Mulai dari obrolan emak-emak sampai percikan idealisme pemuda. Saat itu ada satu lagi penumpang masuk. Seorang perempuan berkerudung biru, mengenakan kaos biru yang ku kenali dari event DIFFABLE FAIR yang tadi juga aku ikuti. Kuperhatikan lebih jauh, perempuan itu memang diffable, ada tongkat alumunium terlipat menggelayut di lengannya.

15 menit sudah aku menanti jurusan 2A. Sebentar aku teralih oleh serombongan muda-mudi berpenampilan dan bergaya masa kini, ala anak metro. Logat mereka, bukan orang daerah sini. Sepertinya mereka habis shopping  di Malioboro.

Jreng – jreng!!! bus 2A datang sudah. Ternyata perempuan bererudung biru dan rombongan muda-mudi itu satu bus dengan ku. Muda-mudi itu langsung “nyelonong” masuk dan menempati tempat duduk yang tersisa. Sementara aku mencoba membantu perempuan tadi melangkah ke bus karena jarak tepian halte dan pintu bus yang agak lebar, agar tidak jatuh.

Di dalam bus, orang-orang nampak acuh tak acuh dengan kehadiran perempuan berkerudung biru itu. Boro-boro memberikan tempat duduk, ketika hampir jatuh saat hendak meraih pegangan tangan pun tidak bergeming. Untungnya sebelum terjatuh aku sempat meraih dan mengarahkan tangannya. Di tempat dia hampir terjatuh tadi, duduk muda-mudi yang berdandan masa kini sedang bercanda ria.

Di sebelah ku, ada seorang ibu paruh baya, sekitar 35-40 an. Dia membawa 2 orang anaknya yang masih kecil, sekitar 5 dan 7 tahun. Yang kecil agak obesitas, laki-laki. Keduanya bergelayut pada tubuh ibunya. Karena tidak ada pegangan tangan yang cukup rendah untuk mereka raih. Aku sempat bercanda-canda dengan si kecil, mukanya bulat dan menggemaskan.

Sembari bercengkerama dengan ibu dan anak tadi, mataku menelaah apakah ada tempat duduk yang dapat dipakai, ternyata penuh. Dan muda-mudi yang di depannya terpampang seorang perempuan diffable  dan seorang ibu yang kesusahan membawa anaknya, tetap tak bergeming.

Perjalanan sampai di halte THR (Purawisata). Naiklah 3 orang lansia, 2 wanita dan 1 pria. Ketiganya berpegangan pada tiang di dekat pintu, karena untuk meraih pegangan yang ada di atas akan menyulitkan mereka. Aku mengajak berbincang sang kakek, dan sedikit berbagi kemana tujuan selanjutnya. Muda-mudi berdandanan masa kini tadi masih tidak bergeming.

Sesampai di Halte Pojok Beteng Wetan aku berpisah dengan ibu dan rombongan lansia tadi, karena harus berganti jalur 3A. Perempuan berkerudung biru dan muda-mudi yang “gaul” juga ikut turun dari bus.

Ku kira si perempuan tadi mau mencari tempat duduk, ternyata dia turun dari halte dan hendak menyeberang di jalan yang padat kendaraan serta dengan laju yang kencang. Muda-mudi tadi masih diam melihat perempuan tadi kesusahan maju mundur, pun begitu dengan orang-orang dan petugas halte. Aku turun dari halte, dan ku coba menyeberangkan. Kemudian ku sampaikan juga agar berhati-hati. Kami pun berpisah.

Ternyata, tidak sampai 5 menit aku menyeberangkan perempuan tadi. Waktu yang singkat bukan? Mengapa tidak ada ya yang bergerak.

Masuk ke halte beberapa orang menatapku, aku sih cuek saja. Ku temui penghuni baru, seorang bapak dan ibu beserta anaknya yang masih bayi. 16 bulan kata sang ibu ketika kutanya. Mereka hendak pulang ke rumah di luar kota. Tak lama berselang bus yang ditunggu pun tiba. Ada sedikit kekacauan karena penumpang yang baru saja turun dari jalur 2A setelah kami mencoba merangsek masuk terlebih dahulu. Ckckckk egoisitas yang menggelora.

Di dalam bus (lagi), kami satu deret lagi. Aku, suami istri dan anaknya, serta muda-mudi berdandanan masa kini. Si ibu diberikan tempat duduk oleh seorang perempuan yang iba mendengar si kecil terisak. Sang bapak dan aku masih bergelayut di besi panjang di atas kepala kami. Sebentar aku menangkap tangan kiri si bapak, ternyata terbalut bebat elastis. Di antara jari tengah dan jari manis terdapat sebatang kayu pengganjal, sepertinya salah satu diantara kedua jari itu telah patah.

Muda-mudi berdandanan masa kini tadi, duduk dengan enaknya, bercanda-canda, sementara sang bapak dengan gagah menggendong anaknya yang rewel. Dengan tangan yang tadi terbalut bebat. Ketika si ibu bertanya khawatir, sang bapak dengan senyum menjawab, tidak apa-apa.

Sampai di terminal kami berpisah, muda-mudi berdandanan masa kini tadi entah kemana, bapak ibu dan anaknya tadi sudah pasti mengejar bus ke arah mereka tinggal. Dan aku pun kembali menaiki jalur 3A ke arah tujuan selanjutnya.

-=FIN=-

14 thoughts on “Kisah Pemuda dalam Trans Jogja”

  1. Keren tulisannya mas, ini mengemukakan fakta tak ada opini sama sekali, jadi pembaca yang beropini🙂
    Melatih empati itu ternyata gampang2 susah ya …😐

    1. yah begitulah…
      gampang sebenarnya mbak.. asal dilatih sejak dini… seperti seorang sahabat saya di Bandung sana…anaknya yang masih kecil aja tahu bagaimana berbagi dengan sesama…

  2. Saya sudah sering mendengar cerita tentang hilangnya filantropi orang-orang zaman sekarang, khususnya di daerah perkotaan. Tetapi kelakuan pemuda-pemuda di Trans Jogja itu sungguh keterlaluan.

  3. kehebohan kemarin itu mungkin bisa jadi cerminan atau pengingat buat kita semua kali ya Mas, supaya jangan jadi orang seperti itu. Mungkin kita semua sudah terlalu lama cuek sama sekitar…😀

  4. Sayangi yang anak-anak, orang tua dan mereka yang tak memiliki tubuh sempurna. Sebab jika tua nanti kau pun butuh kasih sayang dari yang muda dan yang lebih mampu dari tubuhmu yang renta

    1. aamiin.

      Ini realita kehidupan hasil yang dikatakan kemajuan jaman. semoga anak cucu kita nanti dapat kita besarkan dengan nilai-nilai luhur dan akhlak yang baik.

      Masih ada secercah harapan, ada segmen dimana ada seorang yang masih mau memberikan tempat duduknya bagi sang ibu dan anaknya🙂

Share your story with us

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s