Coretan Pena di Vredeburg


Pagi-pagi ke terminal lalu naik Trans Jogja jurusan Stasiun Tugu. Pramex ke Solo. Sampai. Eh ternyata temennya malah ga jadi :p Yah sudah lah. Kaki pun kulangkah kan sepanjang jalan Malioboro. Hmmm sudah jam 8 lebih, mau ngapain ya. Dengar kabar kalau diorama 1 dan 2 Vredeburg sudah direhab, saya pun berbelok ke arah benteng yang dibangun pada masa kolonial Belanda.

Berhubung musim liburan untuk beberapa daerah luar Jogja  serta hari minggu, antrian tiket pun lumayan lama. Setelah hampir setengah jam, dengan modal 2000 rupiah terbayar lah selembar tiket Vredeburg. Hmmm Tiketnya model baru nih lebih bagus juga. Tiket sudah ditangan, tanpa pikir panjang saya pun melangkah masuk.

Wadaw!!! Begitu masuk kok kebelet! langsung belok kiri dan ngibrit ke toilet untuk buang air :p Setelah terlaksana, FUAH lega.

Lanjut lagi putar-putar benteng. Pertama nongkrong adalah di jalan tengah. Duduk di belakang patung Sang Panglima Besar sambil menikmati hawa sejuk di bawah pohon. Mata teralih menuju sebongkah meriam tua yang dipajang di halaman. Hmmm di gambar bagus nih. Kebetulan kemarin juga baru saja refill isi “binder” dengan kertas polos. Keluarin “Binder” dan pena. Mulailah corat-coret. Agak lama kemudian, coretan pertama pun jadi.

Meriam Benteng Vredeburg
Meriam Benteng Vredeburg

 

Jalan-jalan lagi yuk. Memasuki diorama 2 saya pun sliwar-sliwer menikmati sajian sejarah yang memukau. Ditambah lagi, sekarang suasana di dalam diorama lebih terang bersih dan lega. Masih ada kursi-kursi untuk beristirahat ketika capai jalan-jalan juga. Sayang, ada beberapa  pengunjung yang tidak peduli kebersihan. Setelah minum dan makan sampahnya tidak dibuang pada tempat yang semestinya. Di sebuah kursi di dekat mesin cetak kuno, saya menemukan sebuah botol minuman yang tergeletak tak bertuan beserta sedikit sisa remahan makanan. Yah karena ga bawa kamera, kertas dan pena pun kembali jadi senjata buat mengabadikannya. Itung-itung sambil belajar skets pakai pena, biasanya sih pakai pensil.

ini dia si sampah.

sampah botol

Selesai, jalan lagi. Keluar menuju diorama 3 dan 4, sayang masih perbaikan. yah yah yah… Akhirnya hanya duduk ga jelas di pelataran tengah yang biasa dipakai untuk pentas-pentas dan acara. Ada bule wira-wiri. Sudah lumayan berumur sih. Dia menghampiri dan bertanya apa benar di selatan sana itu toko oleh-oleh, ku jawab iya tapi sedang tidak buka. Dia tanya lagi apa besok selasa atau rabu buka, kujawab kemungkinan iya. Kemudian obrolan kami berlanjut.

Bule yang akhirnya ku ketahui namanya Eduardo seorang pensiunan wartawan senior itu melemparkan sebuah pertanyaan yang menurutku bagus. Mengapa bangunan yang notabene adalah peninggalan kolonial Belanda dijaga dan dirawat dengan baik. Menurutku, itu karena bangunan-bangunan itu adalah bagian dan saksi bergulirnya sejarah bangsa ini. Eduardo juga sempat berpendapat, mungkin saja jika tidak ada inasi dari kolonial, Kepulauan ini tidak akan menjadi negara bernama Indonesia. Dan tempat kami berdiri saat itu (Vredeburg) mungkin akan menjadi Republik Yogyakarta. Sebuah peryataan yang menarik dan menggelitik. Di sela-sela diskusi dia tanya apakah saya seorang artist karena sempat melihatku menggambar (sempat sedikit dipuji gambaran saya walaupun masih acakadut). Saya jawab bukan, ditanya lagi apakah mahasiswa sejarah, atau sosiologi, saya jawab lagi bukan. Kemudian saya jelaskan bahwa saya hanya seorang lulusan SMA. “You have bright mind as a high school grade youngster. Indonesian should think wide and bright like you when facing 2030 when Indonesia may achieve major economic level like German, England etc.”

Setelah berpamitan, saya “nglesot” lagi. Kemudian membuka lembaran kertas lagi. Lalu menggoreskan pena lagi. Setelah agak lama (lagi-lagi) gambar ketiga pun jadi.

Belakang Gerbang Benteng Vredeburg
Belakang Gerbang Benteng Vredeburg

Saya rasa sudah cukup untuk hari ini. Pulang. tapi sebelum balik mampir dulu di PMPS (Pasar Malam Perayaan Sekaten) di Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta.

NB : Kalau fotonya ga jelas maafkan karena cuman make kamera HP jadul yang agak ga jelas gitu

7 thoughts on “Coretan Pena di Vredeburg”

  1. Bener juga opa Eduardo. Berarti harus berterima kasih sama penjajah nih. Meski banyak genosida terjadi, tapi para imperialis itu udah berjasa membangun yg namanya Indonesia.

Share your story with us

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s