MERDEKA! -palsu atau nyata-


Hari ini, 17 Agustus 2012 tepat 67 tahun Indonesia tercinta merdeka. Merdeka dari kolonialisasi dari bangsa lain. Merdeka dari penindasan (perang). setelah 300 tahun lebih bangsa ini terkungkung dalam penindasan bangsa lain, akhirnya Indonesia berhasil memperoleh kemerdekaannya. Jerih payah para pejuang yang tiada henti, tak kenal lelah berbuah sudah.

Namun kini, apakah gegap gempita, hiruk-pikuk suka cita bahwa bangsa ini sudah merdeka masih terdengar? Apakah selain nyanyian sumbang ketika upacara 17-an, konser musik di gelanggang-gelanggang, dan lomba-lomba pemuda masih dirasakan esensi perjuangan para pahlawan?

Perayaan kemerdekaan tiap tahunnya tak ubah layaknya pesta pora tanpa makna. Ajang pamer dan hura-hura. Menghambur-hamburkan miliaran rupiah uang negara. Namun ketika kita tengok setiap upacara, suasana khidmat itu tidak ada. Katakanlah para abdi negara yang hidup dan matinya dibiayai oleh negara (PNS dkk), saat upacara bendera justru berlomba berebut tempat duduk di belakang barisan. Atau para tentara tercinta yang beberapa diantaranya jongkok di tengah pasukan. Tapi tentu bukan yang upacara di Istana negara karena mereka orang “pilihan”.

Sejenak luangkan waktu kita menengok pinggir pagar Istana Negara, pinggir lapangan-lapangan upacara di sekitar mu, di sana berjejer penduduk negeri ini yang compang-camping justru dengan khidmat mengikuti jalannya upacara. Mereka yang justru tidak merasakan nikmatnya merdeka. Tapi justru merekalah yang di mana-mana dengan bangga menyatakan Indonesia Merdeka! Walau terkadang mereka sendiri mempertanyakan apa sebenarnya arti sebuah kemerdekaan di tengah himpitan ekonomi dan kemiskinan.

Apakah negeri ini sudah merdeka? Ketika beras pun masih impor, bahkan kedelai bahan baku tempe yang asli Indonesia walau pun dipatenkan sama Jepang, juga masih impor. Ketika budaya konsumtif masyarakat Indonesia yang tinggi bertemu dengan produsen elektronika dan otomotif Jepang dan China, maka negeri ini tak ubahnya lahan jajahan baru dalam dunia perekonomian. Ketika para mahasiswa telah lulus, mereka menyelewengkan Kuliah Kerja Nyata menjadi Korupsi Kolusi Nepotisme, sejak itulah penjajahan oleh para koruptor bersemi.

Tapi kawan, negeri ini benar sudah merdeka! Tak tahukah kau 67 tahun silam Soekarno-Hatta mengumandangkan sepatah demi patah kata proklamasi kemerdekaan Indonesia? Tak membacakah kau dalam sejarah ribuan orang berduyun-duyun ke jalan Pegangsaan timur no. 56 untuk mendengarkan langsung proklamasi dibacakan sang dwi-tunggal?

Ketika kita mempertanyakan kemerdekaan bangsa ini, maka sebenarnya jiwa-jiwa kita lah yang belum merdeka. Yang harus kita perjuangkan lagi dari penjajahan-penjajahan pemikiran-pemikiran kolot dan liberal. Dari pemikiran yang memecah belah persatuan. Dari pemikiran kesukuan, ras, agama, dan kepentingan golongan. Jika nanti kau bertanya apakah kemerdekaan ini palsu atau nyata, tanyakanlah pada dirimu. Sudahkah enghkau merdeka?

Kepada negeri ini kusampaikan, Dirgahayu negeriku, Dirgahayu Indonesiaku! Tongkat estafet perjuanganmu akan terus kami lanjutkan kepada generasi-generasi selanjutnya.

Share your story with us

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s