Kegilaan di sebuah puncak


"Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung."

Kadang kita heran mengapa banyak orang keranjingan mendaki gunung. Baik itu yang hanya sebuah gundukan kecil deket rumah saya, menengah seperti Merbabu sampai yang berada di kaki langit layaknya Everest. Berbagai komentar dan pertanyaan terlontar dari mereka yang belum pernah sama sekali menikmati sensasi pendakian. Negatif banyak, yang possitif tak kalah. “Ngapain sih kalian, capek-capek gitu.” “Apa sih yang kalian cari di sana?” Mau jadi manusia rimba?” “waaah foto-fotonya bagus!” “kalian kuat-kuat ya, kalau aku pasti dah tepar” “pengen ikut” dll

Alasan naik gunung bermacam-macam. Dari sekedar refreshing, merayakan sesuatu, penelitian, hingga bertapa. Namun semua itu berakar dari keinginan menikmati bumi tanah air ini seutuhnya, semurninya. Bagi yang nasionalis, mendaki gunung adalah seperti yang Gie utarakan di atas. Bagi para petualang summit adalah sebuah tantangan. Bagi yang religius, ini adalah ajang pendekatan diri kepada Sang Pencipta.

Namun kadang miris, kala sepanjang perjalanan menemukan banyak kerapuhan hubungan antara manusia dengan alam. Banyak corat-coret, tebangan ranting dan pohon sembarangan, sampah berserakan. Pernah ketika itu ikut bersih gunung Merbabu, berkarung thrash bag penuh. Bahkan di sebuah Tegalpanjang yang notabene sepi dan tersembunyi pun masih nemu sampah.  Sempat sindiran ini di tulis dalam sebuah lagu oleh Yan Hartland yang dinyanyikan adiknya Rita Ruby Hartland

Kepada Alam dan Pencintanya

Pendaki gunung sahabat alam sejati
Jaketmu penuh lambang
Lambang kegagahan
Memproklamirkan dirimu pencinta alam
Sementara maknanya belum kau miliki
Ketika aku daki dari gunung ke gunung
Disana kutemui kejanggalan makna
Banyak pepohonan merintih kesakitan
Dikuliti pisaumu yang tak pernah diam
Batu-batu cadas merintih kesakitan
Ditikam belatimu yang tak pernah ayal
Hanya untuk mengumumkan pada khalayak
Bahwa disana ada kibar benderamu
Oh alam… korban keakuan
Oh alam.. korban keangkuhan
Maafkan mereka yang tak mau mengerti
Arti kehidupan…

Bagaimana kita akan mencintai dan mengatakan mencintai sesuatu ketika kita adalah perusaknya? Banyak yang mencoba melestarikan, namun banyak pula yang turut meremukkan.

Padahal ketika pertama kali kita melihat keindahan alam dengan mata kita, merasakan semilir angin dengan kulit kita, menghirup segarnya udara dengan hidung kit, dan melangkahkan kaki di padang rumput dan ilalang yang indah; ketakjuban luar biasa itu tiada henti datang.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Rum: 41)

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya Allah amat dekat kepada orang yang berbuat baik.” (QS. 7 : 56).

Sampai kapan kegilaan ini akan terus berlangsung?

 

7 thoughts on “Kegilaan di sebuah puncak”

Share your story with us

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s