CATPER Pendakian Merbabu 1-3 Juli 2011 via Wekas Bersama PAPL dan SMA 2 Yogyakarta



Pendakian massal ke Merbabu kali ini lain dari biasanya. Saya yang biasanya hanya sebagai peserta sekarang bertugas sebagai tim medis. Pendakian ini diselenggarakan oleh Temu PAPL 2011. Tim medis sendiri beranggotakan 6 orang dari KSR PMI Kota Yogyakarta dan 8 orang dari PMI Muntilan dibantu 4 orang dari panitia PAPL.

Packing dan check perlengkapan yang musti dibawa  dari pukul 12.00. seharusnya pukul 14.00 sudah berangkat namun karena ada beberapa kendala maka baru bisa berangkat dari Jogja pukul 16.00.  Kami menuju ke terminal Giwangan diantar menggunakan mobil, kemudian naik bus Ramayana dan turun di Muntilan (depan Klentheng) pukul 17.30. Tiket dari Giwangan ke Klentheng adalah Rp. 8000,- per orang total 48.000 karena kami ber enam.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju SMK Pangudi Luhur Muntilan yang berjarak kurang lebih 1 Km. Sesampainya di sana kami di temui oleh ketua panitia Temu Pecinta Alam Pangudi Luhur 2011 (andre). Setelah istirahat dan sholat kami menyempatkan diri bercengkerama dengan rekan-rekan dari PMI Muntilan yang sedang melakukan check medis bagi peserta PAPL 2011 yang akan ikut mendaki Merbabu.

Berhubung hari semakin larut dan perut kami pun berkerut maka diputuskan untuk segera mengisinya. Patungan jajan ke angkringan yang akhirnya dibatalkan karena disuruh makan di kantin yang memang disediakan buat panitia dan peserta. sambutan dari ibu kantin yang super ramah membuat saya dan teman-teman tak ragu-ragu untuk segera mengisi kekosongan perut sejak siang tadi.

Ketika ke 6 rekan saya sedang asik berkutat dengan hidangannya, saya menyempatkan diri untuk bergabung dengan peserta dan panitia dalam penjelasan teknis pendakian esok hari. Beberapa penjelasan penting soal medan, cuaca, dan persiapan disampaikan di sini. Setelah acara briefing dengan peserta selesai, saya dan pras mengikuti briefing dan persiapan terakhir dengan panitia PAPL 2011. Briefing berisi rincian teknis kegiatan dari setiap komponen yang ada. Karena kebetulan saya dan pras berada dalam tim medis maka saya menanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan tugas kami. Selesai briefing waktunya istirahat.

Dibangunkan oleh alarm HP saya pada pukul 4.15, kami segera menuju masjid yang lumayan agak jauh dari SMK PL untuk sholat shubuh. Usai sholat kami kembali melakukan packing dan mengisi logistik tambahan. Pukul 7.00 4 truk berisi peserta dan panitia berangkat dari Muntilan menuju gerbang pendakian Merbabu via Wekas. Perjalanan ditempuh sekitar 1 jam 45 menit karena truk juga agak ngebut. dari gerbang Wekas ke basecamp Kedakan lumayan jauh. Biasanya kalau mendaki sendiri naik bus, kami harus berjalan atau naik ojek sampai ke basecamp. Syukurlah hari ini kami bisa diantar sampi di basecamp :p.

Di basecamp, peserta dan panitia sarapan pagi dan melakukan persiapan pendakian. Tim medis pendakian dari PMI Muntilan ternyata datang agak terlambat karena ada sedikit hambatan, sehingga kami harus menunggu sedikit lama. Setelah semua personel lengkap, pendakian di mulai. Peserta dibagi menjadi 8 kloter. Saya bertugas sebagai tim medis 1 sehingga berangkat setelah kloter 1. Jalur pendakian Wekas ini merupakan jalur favorit karena medannya cukup bersahabat bagi pemula. Namun jalur ini juga memiliki tingkat kesulitan tersendiri yaitu jalur yang terus menerus menanjak dari awal sampai akhir pendakian. Hanya di beberapa tempat saja terdapat tempat datar untuk beristirahat.

Jalur dari Wekas yang aslinya hanya Pos 1, Pos 2 dan puncak dibagi lagi menjadi 8 Pos yaitu po1-pos 5 dari basecamp sampai pos 2 Merbabu (camp area) dan pos 6-pos 8 setelah camp area sampai bawah puncak.

Jam 2 siang semua kloter sudah berada di camp area, peserta kemudian mendirikan tenda, makan siang dan beristirahat. Yang lain asyik bercengkerama dengan kontingen dari sekolah lain. Membuat api unggun, melihat panorama di pos 2, dan mengisi persediaan air. Di sini ada beberapa lubang dari pipa air yang bocor (atau sengaj dilubangi) yang bisa digunakan sebagai sumber air.

Pukul 23.30 peseta dibangunkan dan diminta untuk packing. Pukul 00.30 tim pertama berangkat menuju puncak. Perjalanan menuju puncak terasa sedikit berat karena kloter pertama yang berada di depan saya sering berhenti. Ini disebabkan ada beberapa anggotanya yang mengalami cedera. sampai akhirnya kloter 1 disalip oleh beberapa kloter dibelakngnya. Setelah melewati Jembatan setan, medan mulai bertambah berat. menyusuri jalan setapak sepanjang punggung gunung yang lengah sedikit jurang menanti, hingga tebing yang mengharuskan kami berjalan menempel ke dinding tebing karena jalan hanya muat untuk satu kaki. Syukur tidak ada yang terkena halangan di sana.

Ketika sudah mendekati puncak saya sempat ditanya oleh pak wisnu, pendamping kontingen dari Yopala Solo, “puncaknya masih jauh?” dengan enteng saya menjawab, “masih pak. ini aja belum lewat pos helipad, setelah itu belok kanan arah puncak Kentheng songo”. Padahal saya tahu, puncak sudah ada di depan mata. Ketika kita sudah sampai di Puncak Ketheng songo kurang dari 15 menit ketika saya ditanya, Pak wisnu menuduh saya mengerjainya. hehehe memang sih. maaf ya pak :p

Suhu di puncak sangat dingin dan kami harus menunggu agak lama hingga semua kloter sampai. Pukul 4.30 semua kloter sudah sampai. Banyak nyala api dan kompor-kompor lapangan menyala. Minuman hangat, ya itulah pikiran semua orang saat itu. Sembari menanti matahari terbit, saya menjerang air dan memasak mie untuk sarapan.

Matahari terbit atau SUN RISE yang dinanti-nanti pun tiba. Sangat indah. Boleh dibilang ini adalah sunrise terindah yang pernah saya lihat. Ketika matahari semakin meninggi, terlihat beberapa puncak gunung lain menjulang di atas mega. Merapi, Sindoro, Sumbing, Lawu tampak kokoh dan megah. Puas berfoto-foto di Kentheng songo kami melanjutkan ke puncak Trianggulasi yang merupakan puncak tertinggi Merbabu (3.142 mdpl). di sana kami berfoto bersama-sama.

Pukul 7.15 semua peserta turun ke camp area (pos 2). Ketika perjalanan turun saya takjub bagaimana kami melintasi medan seberat ini tadi malam. Kebiasaan anak muda setiap turun gunung pasti ada saja yang berlari. Ada beberapa orang yang akhirnya menderita lecet-lecet di kaki.

sampai di camp area pukul 10, semua peserta dan panitia berbenah dan packing semua perlengkapan. Sarapan, membersihkan sampah, melipat tenda, mengisi persediaan air. Pukul 12 kami turun ke basecamp. Perjalanan turun dari pos 2 (pos 5 PAPL) jau lebih cepat daripada saat pendakian. Apalagi kloter saya (terakhir) melewati jalur yang sebenarnya diperuntukkan untuk panitia (jalur paling kiri) hingga menyalip beberapa kloter di depan.

Setelah melewati makam, saya sempat berjumpa dengan 10 orang adik2 Vachera (PA SMA 2 Yogyakarta) yang merupakan tim pembuka pendakian massal yang diadakan pada hari itu (2-3 Juli 2011). Setelah bercengkerama beberapa saat saya melanjutkan perjalanan ke basecamp. Pukul 14 semua kloter sudah sampai di basecamp. Cek personil, merapikan peralatan, belanja souvenir dan pukul 14.30 Peserta dan panitia Temu PAPL 2011 kembali ke SMK Muntilan. Sedangkan saya dan seorang teman dari Jakarta (mas sigit) tetap tinggal di basecamp.

—————————————————————————————————————————————————————

Di basecamp ternyata anak-anak SMA 2 Yogya yang lain sudah banyak yang berkumpul. Begitu juga 3 orang guru dan 2 orang karyawan. Sambil menunggu  1orang teman dari Yogya yang menyusul (kang Aji) saya menyempatkan bercengkerama dengan beberapa adik2 dan saya kaget ketika de Maya juga ikut mendaki. Maya ini adik temenku yang juga anak KSR PMI Kota Yogya. Tak lama berselang alumni angkatan 2009 juga hadir.

Ketika saya sedang bercengkerama dengan anak-anak 2009 dan menunggu kang Aji dari Jogja, Mam Ari yang tadi ikut mendaki datang kembali ke basecamp karena terkena mountain sickness. Selang 30 menit Fauzi (anak o12) juga turun karena kakinya cedera sehingga tidak kuat naik lagi.

Sebelum berangkat saya sempat melihat ada seorang dari anak-anak wonosobo yang nanjak hari itu memakai kaos PSL 2 KSR PMI Kota Yogyakarta. Ketika melihat saya memakai kaos yang sama, dan kerir yang ku bawa juga ada lambang dan tulisan PMI Kota Yogya dia seperti menyingkir dan menjauh.

Selepas maghrib, saya, mas sigit, kang aji, mas Dono, dan anak-anak VCH 2009 memulai perjalanan. Perjalanan ini terasa lebih enak bagi saya daripada ketika mendampingi PAPL karena saya lebih lepas sebagai peserta😀. Manajemen perjalanan mas Dono sebagai leader pun lebih bagus daripada danpok di depan saya hari sebelumnya (ya iyalah pelatihnya VCH je). Namun karena ada sedikit kendala leader diambil laih oleh Rian alias Ginksul.

Sepanjang perjalanan lagu-lagu Iwan Fals, KLA, dan beberapa lagu lama menghiasi mulut kami. Ada juga lantunan lagu-lagu dari radio yang dibawa Ucup. Pokoknya meriah.

Pukul 22 kami sampai di pos 2. Setelah mendirikan tenda dan makan malam, agenda selanjutnya adalah tidur. Pukul 3 pagi anak-anak pada bangun untuk melnajutkan pendakian ke puncak. Saya dan beberapa rekan tidur lagi karena memang masih malas untuk bangun. Tenda saya yang berisi 4 orang hanya stu saja yang meneruskan perjalanan ke puncak yaitu mas Aji.Mas Sigit sepertinya kecapaian. Kalu saya sih memang cuma menarget pos 2 saja dalam pendakian ke 2 ini.

pukul 5.30 saya bangun, dan wao!!!! Beberapa rumput dan flysheet serta ponco berselimutkan bulir-bulir es. Pantas saja malam tadi terasa amat dingin. Saya langsung menyalakan api unggun di bekas bara api sisa semalam. Cukup untuk menghangatkan badan. Anak-anak 2009 kemudian menyusul rombongan yang berangkat lebih awal pada pukul 7.

Sembari menunggu anak-anak yang mendaki ke puncak, kami memasak sarapan dan minuman hangat. Tak lupa kami membersihkan sampah yang ada. Selain itu beberapa dari kami juga menyiapkan makanan buat yang sedang mendaki agar ketika balik sudah ada yang bisa disantap.

Ketika matahari meninggi sekitar pukul 10, rombongan pertama sudah turun dari puncak ke pos 2. Selang beberapa saat rombongan selanjutnya menyusul. dari kisah mereka ada 2 kisah yang menarik bat saya. Pertama, Bu Ratna (55 tahun) yang merupakan guru sejarah di sekolah kami berhasil summit di Puncak Syarief. Kedua, kang Irvan aka Ngepet menemukan Sunrise pertamanya selama dia mendaki Meberbau.

Pukul 11 semua personel telah kembali ke pos 2, membereskan perlengkapan, dan satu demi satu rombongan turun. Saya turun bersama rombongan de Maya, Kang Aji dan dan mas Sigit. Sebelum turun, saya dititipi “Simbah” porter saat pendakian PAPL kemarin daypack anak Wonosobo yang tertinggal.

Perjalanan turun tidak menemui kendala yang berarti. Hanya saja setelah melewati makam, Nabila mengguling-gulingkan kerirnya karena kakinya melepuh dan sakit jika dipakai untuk berjalan. Sampai di bawah pun dia kehilangan HP. Untung ada anak SMADA yang menemukannya ditengah perjalanan.

Sesampai di basecamp saya langsung menuju masjid untuk bersih-bersih dan ibadah. Kemudian makan siang di basecamp Pakdhe Marno dengan menu sayur dan telur goreng seharga Rp. 5.000,-.  Truk yang seharusnya tiba pukul 2 ternyata baru tiba pukul 4 sore. Selama menunggu truk datang saya menyempatkan diri jalan-jalan dan tidur. Sewaktu tidur ternyata saya ditinggal pulang ke Jogja oleh Kang Aji dan mas Sigit tanpa pamit. Sesampai di Jogja sih katanya ga enak mau bangunin.Hobi ibu-ibu berbelanja memang menakutkan. Apalagi kalau tahu ada barang murah. Terbukti Ibu-ibu guru dan beberapa anak perempuan memborong sayur-sayuran yang harganya sangat jauh lebih murah dari pada di Jogja. Yang cowok-cowok sih pada nitip dibeliin aja.

Pukul 16 truk datang, semua barang dan perlengkapan dinaikkan ke dalam truk. cek personil. Setelah lengkap truk berangkat ke Jogja. Dalam perjalanan pulang ini ada 4 teman dari kang Irvan yang nebeng. 2 di antaranya bule. Akhirnya bule yang bernama Adrian dari Prancis jadi bahan praktek Bu Ratna ngobrol pake Bahasa Inggris (walau beberapa kali saya musti translate in juga sih :p). Perjalanan sempat terhenti karena ada yang meninta untuk mampir beli duren😦. Selain itu Bunda Ratna dan beberapa anak perempuan mengeluh karena si sopir agak ugal-ugalan dan tidak seperti membawa orang tapi membawa pasir.Bu Ratna dan Mam Ari juga sempat request ke kang Irvan agar pas turun dari truk di potret. Mau dipajang di mading sekolah sebagai aksi protes ke guru-guru yang lain bahwa mereka bisa berbaur dengan murid-murid naik truk kenapa yang lain enggak.

Kami sampai di SMADA pukul 18.30. Saya, Maya dan 2 orang temannya langsung ke masjid untuk sholat maghrib dilanjutkan sholat isya’. Baru setelah itu saya pamitan pulang. Keluar dari SMADA mampir dulu ke burjo buat makan malam. Setelah itu perjalanan selanjutnya pun dimulai.

Tim Medis in Action

Pagi cerah berlatar Merapi

Bola Semangat!!!

Bersama ketua panitia dan tenaga bantuan dari Giopala dan Wisanggeni

Akhirnye om seeged muncak Merbabu juga

15 thoughts on “CATPER Pendakian Merbabu 1-3 Juli 2011 via Wekas Bersama PAPL dan SMA 2 Yogyakarta”

  1. Jadi ingat waktu masih di SMA 2 Jogja. Pertamakali mendaki gunung kelas 3 thn 1984, setelah vakum hampir 17 thn di thn 2016 mulai mendaki lagi, ternyata masih kuat. Dua gunung dalam 2 minggu, Cikuray dan Ciremai di bulan Agustus.

Share your story with us

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s