Fotografi Kegiatan: Dokumentasi vs Narsisme



Sejak SD sampai lulus SMA saya mengikuti beberapa organisasi yang berbeda pola dan cara kerja. Selama itu pula saya mengamati berbagai kegiatan dan cara menjalankannya.

Hampir semua kegiatan yang dibuat organisasi-organisasi tersebut selalu didokumentasikan. Selain bertujuan untuk kenang-kenangan, juga sebagai bahan laporan. Cara pendokumentasiannya pun bermacam-macam. Namun yang paling populer adalah dengan foto dan film.

Foto dan film adalah media yang paling mudah digunakan untuk menyampaikan maksud, tujuan, dan isi dari sebuah kegiatan. Apalagi kalau diambil dari angel (sudut) yang tepat.

Akan tetapi, foto dan film juga kadang tidak mengungkapkan satupun dari kegiatan yang digelar jika pengambilannya tidak tepat. Dan yang satu ini sering kali kita jumpai di hampir semua kegiatan yang ada. Foto dan film yang “bisu”.

Memang sebuah foto tidak mempunyai media suara untuk mengekspresikan suasana yang ada, tapi bukan itu yang dimaksud dengan foto bisu. Foto bisu adalah foto yang tidak bisa menceritakan apa dan bagaimana sebuah kegiatan atau keadaan berlangsung. pun begitu juga dengan film bisu.

Penyebab utama dari banyaknya foto bisu yang diambil adalah dorongan dari masing-masing individu yang memfoto dan yang difoto untuk tampil dan menampilkan eksistensinya secara kurang proporsional (kalau tidak boleh dibilang narsis).

Perbedaan yang mendasar antara foto kegiatan yang baik dengan foto bisu adalah komposisi, object dan tujuan dari foto itu sendiri. Fokus dari fotografi kegiatan adalah kegiatan itu sendiri yang merefleksikan siapa pelaku kegiatan, apa yang dikerjakan, dan apa tujuannya. Sedang fotografi bisu lebih kepada penampilan eksistensi dari indvidu ataupun kelompok tertentu. Kebanyakan object foto dalam kategori ini akan cenderung melakukan pose agar dia tampak lebih menarik perhatian sehingga hasil foto kurang natural.

Di bawah ini saya sertakan foto sebagai contoh dan perbandingan dari kedua kategori di atas.

Kedua foto di atas diambil dalam kegiatan yang sama, dengan object utama yang sama. Cermati dan kamu akan tahu di mana perbedaan keduanya.

Foto-foto atau rekaman narsisme seringkali tidak memiliki nilai bila dijadikan sebagai bahan untuk laporan kegiatan. Dan, biasanya akan secara sadar disingkirkan oleh pembuat laporan. Apalagi bila digunakan sebagai media publikasi dan promosi.

Memang tidak ada salahnya mengambil foto dan rekaman personal, namun saya menyarankan untuk menghindari hal tersebut sebisa mungkin. Apalagi bila kamu sebagai orang yang ditugaskan secara resmi (kepanitiaan) untuk mendokumentasikan rangkaian kegiatan.

Share your story with us

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s