Ada Apa dengan Insomnia?


Dalam beberapa tahun terakhir, saya menemui banyak sekali teman-teman saya adalah manusia kelelawar. Kesulitan untuk tidur di malam hari namun bisa dengan lepas tidur di siang hari. Ya! Dan itu pun  termasuk saya. Kebiasaan mengerjakan sesuatu di malam hari yang terus menerus membuat saya dan banyak teman mengalami pergeseran jam biologis. Apalagi ditambah dengan berbagai macam faktor lain seperti stres dan efek samping dari obat yang diminum.

Pergeseran jam bilogis yang menyangkut dengan sulitnya tubuh untuk tidur pada waktunya sering disebut dengan INSOMNIA. Sebenarnya insomnia adalah kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk itu. Gejala tersebut biasanya diikuti gangguan fungsional saat bangun. Serta merasa kelelahan sepanjang hari.

Sulit tidur sering terjadi, baik pada usia muda maupun usia lanjut; dan seringkali timbul bersamaan dengan gangguan emosional, seperti kecemasan, kegelisahan, depresi atau ketakutan. Kadang mereka tidur dalam keadaan gelisah dan merasa belum puas tidur. Terbangun pada dini hari, pada usia berapa pun, merupakan pertanda dari depresi.

Pengobatan insomnia tergantung pada penyebab orang tersebut mengalami kesulitan untuk tidur. Orang lanjut usia biasanya tidak memerlukan pengobatan karena gangguan tidur adalah hal yang normal. Pada penderita depresi atau stres dan gangguan emosional lainnya seringkali membutuhkan obat anti-depresi. Fungsinya adalah untuk menekan emosi dan kecemasan yang meluap-luap.

Lalu bagaimana dengan orang normal dan merasa sehat? Sebenarnya mereka lebih mudah. Cukup dengan membuat suasana ruang tidur senyaman mungkin. Bisa dengan meredupkan lampu, tenang, atau justru mendengarkan musik favorit. Namun bila tidak bisa juga, dengan diberi obat tidur untuk waktu tertentu. Jelas dengan kontrol dari dokter.

Mengapa kita perlu memperbaiki waktu dan kualitas tidur kita dengan cara-cara di atas?

Sebuah survei dari 1,1 juta penduduk di Amerika yang dilakukan oleh American Cancer Society menemukan bahwa mereka yang dilaporkan tidur sekitar 7 jam setiap malam memiliki tingkat kematian terendah, sedangkan orang-orang yang tidur kurang dari 6 jam atau lebih dari 8 jam lebih tinggi tingkat kematiannya. Tidur selama 8,5 jam atau lebih setiap malam dapat meningkatkan angka kematian sebesar 15%. Insomnia kronis – tidur kurang dari 3,5 jam (wanita) dan 4,5 jam (laki-laki) juga dapat menyebabkan kenaikan sebesar 15% tingkat kematian. Setelah mengontrol durasi tidur dan insomnia, penggunaan pil tidur juga berkaitan dengan peningkatan angka kematian.

Well, menjadi kalongers atau manusia kelelawar atau begadanger adalah pilihan. Mari kita memilih untuk hidup sehat.

Share your story with us

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s