Meniti Jalan Panjang Pendidikan


Sebuah tempat di mana terdapat proses belajar mengajar bisa disebut sebagai sekolah. Entah itu bangunan megah bertingkat yang diisi kaum elit, ataupun kolong-kolong jembatan kotor dengan anak-anak jalanan di dalamnya.

Definisi sekolah secara resmi yang tercantum dalam Kamus Bahasa Indonesia 2008 keluaran Pusat Bahasa Indonesia adalah :

  1. Bangunan atau lembaga untuk
    belajar dan mengajar serta tempat menerima
    dan memberi pelajaran (menurut
    tingkatannya, ada) — dasar, — lanjutan;
  2. Waktu atau pertemuan ketika murid diberi
    pelajaran;
  3. Usaha menuntut kepandaian
    (ilmu pengetahuan); pelajaran

Di sekolah, para siswa tidak hanya diberikan pelajaran dari berbagai disiplin ilmu, namun juga pelajaran budi pekerti. Jadi seimbang anatara akal dan akhlak.

Namun, dewasa ini dunia pendidikan seperti tengah dirundung badai yang tidak kunjung reda.  Berbagai masalah muncul silih berganti. Mulai dari tidak terpantaunya daerah-daerah pinggiran, sampai merebaknya kasus-kasus korupsi yang melibatkan oknum-oknum yang katanya pendidik.

Banyaknya bangunan sekolah yang terlantar tidak lepas dari minimnya perhatian dari pemerintah maupun masyarakat sekitarnya. Tidak terhitung lagi dengan jari berapa sekolah yang berada dalam kondisi sangat kritis namun masih dipaksakan untuk digunakan karena siswanya masih bersemangat. Kurangnya peran serta masyarakat membuat kondisi semakin bertambah parah.

Yang lebih membuat miris, masih ada saja oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Memanfaatkan celah-celah untuk kepentingan pribadinya. Tercatat sudah di Sleman, Yogyakarta. Bupati dan banyak pejabat tersangkut korupsi pengadaan buku ajar. 20 sekolah dari SD sampai SMA di Kota Yogya tersangkut kasus korupsi. Belum di daerah-daerah lain.

Saya di sini berbicara fakta karena saya pernah melihatnya dengan mata kepala saya sendiri bagaimana modus operasi oknum pengawas sekolah meminta “sangu”.

Tetapi kita masih bisa lega. Banyak rekan-rekan yang masih menjunjung nilai kejujuran. Banyak yang benar-benar peduli pada dunia pendidikan. Dan banyak yang masih rela meluangkan waktu bermain ke shelter, rumah singgah, kolong-kolong jembatan, serambi-serambi masjid, aula-aula gereja, pura, dan vihara untuk berbagi ilmu tanpa mengharapkan imbalan yang berlimpah. Bahkan senyum ceria para siswanya sudah memantapkan hatinya untk datang lagi esok hari.

Tiga kalimat yang harus menjadi patokan para pendidik, pembimbing, dan pengajar :

  1. Ing ngarsa sung tuladha (berada di depan memberi contoh yang baik)
  2. Ing madya mangun karsa (di tengah memberikan semangat )
  3. Tut wuri handayani (di belakang memberikan dorongan, menyokong, serta daya upaya)

Seseorang menjadi Guru bukan karena dia bekerja di sebuah “sekolah”. Tetapi seorang Guru adalah setiap orang yang dengan tulus ikhlas mengajarkan ilmu yang ada padanya.

Semoga dunia pendidikan di Indonesia dapat menjadi lebih baik. Aamiin.

3 thoughts on “Meniti Jalan Panjang Pendidikan”

  1. Pada hakikatnya …
    Kita semua ini adalah … Guru …
    Dan sekaligus Insan pembelajar …
    Yang bisa saling ajar-mengajari …
    Satu sama lain

    Salam saya Mas
    (3/5 : 2)

Share your story with us

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s