█bukan█ Kisah Ramadhan


Ramadhan sebentar lagi usai. Beramai-ramai saling meminta maaf ke pada sanak saudara dan handai taulan pun dimulai. Gelak tawa menyambut idul Fitri dan derai tangis karena sang bulan suci tak lama lagi kan pergi.

Bunga-bunga hati yang layu bak disiram air yang diambil dari mata air di puncak gunung. Sejuk. Senyum riang berhamburan dari jiwa-jiwa yang tersucikan.

Namun, apakah yang kita lihat itu kenyataan atau hanya sebuah klise kehidupan.

Di ujung ufuk sana, berlarian bocah-bocah dekil berkain sarung lusuh berpeci hitam yang sudah luntur. Tertawa riang meski sayatan pisau kemiskinan begitu dalam menembus kalbunya. Bukan rintihan minta baju baru, sepatu baru, tas baru yang keluar dari mulut kering pecah-pecah mereka. Sekali-kali bukan! Namun gema takbir yang membahana.

Namun di ufuk yag lain, duduk berjongkok menangis, merengek sekumpulan bocah bercelana jins, berkaos distro, memakai apa yang dikata orang kota sneaker. Bocah yang belum baligh itu meraung-raung menohok batin sang bunda dengan berbagai permintaannya. Gema takbir tak keluar dari bibirnya yang belepotan daging terenak di jamannya. Namun berbagai macam merek baju terkenal. Padahal baju lebarannya tahun kemaren hanya dipakai satu kali saja.

Aku tidak berkisah tentang kita yang entah diufuk mana. Namun aku hanya ingin mengingatkan engkau wahai manusia jika memang masih ada hati di dirimu.

Sebuah ibrah tak selalu datang dari seorang pandai nan cakap. Kadang dia datang dalam bentuk seorang papa yang buta.

One thought on “█bukan█ Kisah Ramadhan”

Share your story with us

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s